Minggu, 14 September 2014

cerpen: I Wonder If You Hurt Like Me

Kau tahu, bagaimana rasanya terbang ke angkasa sana dengan perasaan melayang, berbunga-bunga, dan berharap akan mendarat kan tempat yang empuk dan nyaman. Tapi, apa kau tahu juga, bagaimana rasanya ketika kau terbang ke angkasa dengan perasaan melayang dan berbunga-bunga, tetapi saking melayangnya, kau tidak sadar kalau kau baru saja jatuh ke tempat yang tidak seharusnya. Kau tahu? Itu sangatlah sakit.
Aku, sebagai gadis polos yang tidak tahu apa-apa, terbuai pada dirinya sehingga sekarang aku tidak tahu di mana sekarang. Di mana… letak hatiku sekarang. Aku bahkan tidak yakin apakah hatiku itu masih ada di sini bersamaku, atau mungkin sudah hancur ketika aku jatuh ke tempat yang salah itu?
Persetan dengan Mike dan segala perhatian juga kata-kata manis palsunya selama ini, aku sudah terjebak dalam buaiannya. Masuk ke dalam jeratan ‘cinta’nya dan sulit bagiku untuk keluar dari sana.
Terlalu banyak momen yang kami lalui bersama, terlalu banyak kata-kata manis yang ia katakan padaku, sebelum akhirnya ia pergi tanpa meninggalkan sepatah kata maaf atau apapun itu. Persis seperti debu yang tertiup angin, dia menghilang. Dia menghilang, tanpa tahu bagaimana rasanya sakit yang kurasakan.
Persetan dengan yang namanya laki-laki. Mereka tidak akan bisa mengerti dengan apa yang kurasakan saat ini. Mike telah memberiku celah untuk berharap, tapi tiba-tiba ketika aku sedang menikmati proses di mana harapan-harapanku yang ‘sepertinya’ akan terwujud, dia menutup pintu keras-keras.
Braakk! Saat itu pula, aku merasakan potongan-potongan harapanku itu terpantul pada diriku sendiri, dan akulah yang harus menanggung bebannya. Mencoba menghibur diri sendiri kalau ‘beban harapan’ yang ada digenggamanku ini akan selesai seiring berjalannya waktu.
Seperti ditampar keras-keras di pipi, aku masih tidak menyangka kalau tidak semudah itu menyelesaikan sebuah beban pengharapan. Pelan-pelan, aku harus melupakan sosok Mike. Tapi, ketika aku memejamkan kedua mata, sosoknya muncul dengan senyuman yang dulu sering ia berikan padaku.
Tapi sekarang… ia telah memberikan senyuman itu kepada orang lain selain aku. Dia… dengan mudahnya melupakan segala kenangan yang kami lalui dan menemukan ‘yang lain’.
Aku termanggu, demi apapun rasanya aku ingin pergi ke sebuah tebing tinggi dan menghempaskan tubuhku ke bawah dan jatuh. Aku ingin, menikmati semilir angin yang seakan-akan menopang segala beban yang kurasakan karenanya. Aku ingin, ketika aku mendarat di bawah sana, bebanku melayang pergi saat itu juga.
Tapi sayang, itu tak mungkin.
Aku kembali memejamkan mata, kali ini, kenangan yang dulu terasa bahagia itu tergantikan dengan siluet mereka berdua yang sedang tertawa di hadapanku. Dadaku terasa sesak, jantungku terasa nyeri seakan-akan sulit untuk memompa darah. Aku… entah mengapa merasa dikhianati.
HAHAHA. Lucu bukan? Aku merasa dikhianati oleh pria yang bahkan hanya menanggapku sebagai hembusan angin biasa yang seakan-akan hanya menggoyahkan rambutnya. Aku… merasa dikhianati karena pria yang bukan siapa-siapaku bersama dengan orang lain.
Gila, ini gila. Serius.
Aku ingin menghapus segala memori antara kami berdua yang tersimpan di dalam otak.. dan hatiku. Tapi tidak semudah itu. Terlalu banyak kenangan yang indah, terlalu banyak momen yang sulit dilupakan. Terlalu banyak… pancaran kasih sayang yang masih membekas di dadaku.
Sekali lagi aku meyakinkan diri untuk bisa melakukannya meskipun akan terasa perih. Aku yakin, perlahan aku pasti bisa mengangkat beban itu, menghempaskannya jauh-jauh, dan membuka lembaran baru.
Meskipun aku tahu, kalau aku akan merasakan sakit terlebih dahulu.


2 komentar: